Showing posts with label Anestesi. Show all posts
Showing posts with label Anestesi. Show all posts

Tuesday, January 13, 2015

Anestesi (Pendahuluan)

Pengertian
Anestesi berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa sakit. Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan yang meliputi pemberian anastesi ataupun analgesi, pengawasan keselamatn pasien dioperasi maupun tindakan lainnnya, bantuan hidup, perawatan intensif pasien gawat, pemberian terapi inhalasi, dan penanggulangan nyeri menahun.

Pembagian
Anestesi dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

Anestesi Umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai dengan hilangnya kesadarn dan dapat dipulihkan kembali. Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesi, dan relaksasi otot. Cara pemberian anestesi umum yaitu:
  • Parenteral : digunakan untuk tindakan singkat atau induksi anestesi. Contohnya tiopental, ketamin, diazepam, dll.
  • Perektal    : dugunakan pada pasien anak-anak untuk induksi atau tindakan singkat.
  • Inhalasi    : amestesi menggunakan gas atau cairan anestesi yang mudah menguap sebagai zat anestetik melalui udara pernapasan. Zat anestetik yang digunakan berupa campuran gas dan konsentrasi anestetik tergantung pada tekanan parsialnya. Zat anestetik yang kuat apabila dengan tekanan parsial yang rendah dapat memberikan anestetik yang adekuat.
Anestesi lokal adalah tindakan menghilangakn rasa nyeri/sakit secara lokal tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pemberian anestesi lokal dapat melalui teknik :
  • Anestesi permukaan : Pengolesan atau penyemprotan analgetik lokal di atas selaput mukosa seperti mata, hidung, dan faring
  • Anestesi infiltrasi : Penyuntikan larutan analgetik secara langsung diarahkan ke sekitar lesi, luka, atau insisi. Cairan yang digunakan adalah blokade lingkar yang disuntikan secara intradermal atau subkutan.
  • Anestesi blok : Pentuntikan analgetik lokal langsung ke saraf utama atau pleksus saraf. Hal ini bervariasi dari blokade saraf tunggal, misalnya pada saraf oksipital dan pleksus brakialis, anestesi spinal, anestesi spinal, anestesi spinal, dan anestesi kaudal.
  • Anestesi regional intravena : Penyuntikan larutan analgetik lokal intravena.
Daftar pustaka : Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua, Jakarta:Media Aesculapius 

Monday, January 12, 2015

Daftar Obat-obatan Emergensi

Epinephrin
  • Indikasi : henti jantung (VF, VT tanpa nadi, asistole, PEA) , bradikardi, reaksi atau syok anfilaktik, hipotensi.
  • Dosis 1 mg iv bolus dapat diulang setiap 3–5 menit, dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc dapat diulang setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat diberikan epinephrine perinfus dengan dosis 1mg (1 mg = 1 : 1000) dilarutka dalam 500 cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 μg/mnt dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-10 μg/mnt
  • Pemberian dimaksud untuk merangsang reseptor α adrenergic dan meningkatkan aliran darah ke otak dan jantung
Lidokain (lignocaine, xylocaine)
  • Untuk mengatasi gangguan irama antara lain VF, VT, Ventrikel Ekstra Sistol yang multipel, multifokal, konsekutif/salvo dan R on T
  • Dosis 1 – 1,5 mg/kg BB bolus i.v dapat diulang dalam 3 – 5 menit sampai dosis total 3 mg/kg BB dalam 1 jam pertama kemudian dosis drip 2-4 mg/menit sampai 24 jam
  • dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena
  • Kontra indikasi : alergi, AV blok derajat 2 dan 3, sinus arrest dan irama idioventrikuler
Sulfas Atropin
  • Merupakan antikolinergik, bekerja menurunkan tonus vagal dan memperbaiki sistim konduksi AtrioVentrikuler
  • Indikasi : asistole atau PEA lambat (kelas II B), bradikardi (kelas II A) selain AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III (hati-hati pemberian atropine pada bradikardi dengan iskemi atau infark miokard), keracunan organopospat (atropinisasi)
  • Kontra indikasi : bradikardi dengan irama EKG AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III.
  • Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total 0,03-0,04 mg/kg BB, untuk bradikardi 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit maksimal 3 mg.
  • dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2–2,5 kali dosis intra vena diencerkan menjadi 10 cc
Dopamin
  • Untuk merangsang efek alfa dan beta adrenergic agar kontraktilitas miokard, curah jantung (cardiac output) dan tekanan darah meningkat
  • Dosis 2-10 μg/kgBB/menit dalam drip infuse. Atau untuk memudahkan 2 ampul dopamine dimasukkan ke 500 cc D5% drip 30 tetes mikro/menit untuk orang dewasa
Magnesium Sulfat
  • Direkomendasikan untuk pengobatan Torsades de pointes pada ventrikel takikardi, keracunan digitalis.Bisa juga untuk mengatasi preeklamsia
  • Dosis untuk Torsades de pointes 1-2 gr dilarutkan dengan dektrose 5% diberikan selama 5-60 menit. Drip 0,5-1 gr/jam iv selama 24 jam
Morfin
  • Sebagai analgetik kuat, dapat digunakan untuk edema paru setelah cardiac arrest.
  • Dosis 2-5 mg dapat diulang 5 – 30 menit
Kortikosteroid
Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan untuk mengurangi edema cerebri
Natrium bikarbonat
Diberikan untuk dugaan hiperkalemia (kelas I), setelah sirkulasi spontan yang timbul pada henti jantung lama (kelas II B), asidosis metabolik karena hipoksia (kelas III) dan overdosis antidepresi trisiklik.
Dosis 1 meq/kg BB bolus dapat diulang dosis setengahnya.
Jangan diberikan rutin pada pasien henti jantung.
Kalsium gluconat/Kalsium klorida
  • Digunakan untuk perbaikan kontraksi otot jantung, stabilisasi membran sel otot jantung terhadap depolarisasi. Juga digunakan untuk mencegah transfusi masif atau efek transfusi akibat darah donor yang disimpan lama
  • Diberikan secara pelahan-lahan IV selama 10-20 menit atau dengan menggunakan drip
  • Dosis 4-8 mg/Kg BB untuk kalsium glukonat dan 2-4 mg/Kg BB untuk Kalsium klorida. Dalam tranfusi, setiap 4 kantong darah yang masuk diberikan 1 ampul Kalsium gluconat
Furosemide
  • Digunakan untuk mengurangi edema paru dan edema otak
  • Efek samping yang dapat terjadi karena diuresis yang berlebih adalah hipotensi, dehidrasi dan hipokalemia
  • Dosis 20 – 40 mg intra vena
Diazepam
  • Digunakan untuk mengatasi kejang-kejang, eklamsia, gaduh gelisah dan tetanus
  • Efek samping dapat menyebabkan depresi pernafasan
  • Dosis dewasa 1 amp (10 mg) intra vena dapat diulangi setiap 15 menit.

Dosis pada anak-anak
Epinephrin Dosis 0,01/Kg BB dapat diulang 3-5 menit dengan dosis 0,01 mg/KgBB iv (1:1000)
Atropin Dosis 0,02 mg/KgBB iv (minimal 0,1 mg) dapat diulangi dengan dosis 2 kali maksimal 1mg
Lidokain Dosis 1 mg/KgBB iv
Natrium Bikarbonat Dosis 1 meq/KgBB iv
Kalsium Klorida Dosis 20-25 mg/KgBB iv pelan-pelan
Kalsium Glukonat Dosis 60–100 mg/KgBB iv pelan-pelan
Diazepam Dosis 0,3-0,5 mg/Kg BB iv bolus
Furosemide Dosis 0,5-1 mg/KgBB iv bolus

Sumber : dokter-medis.blogspot.com

Monday, January 5, 2015

Referat Obat Pelumpuh Otot (Bagian 4)


DAFTAR MASALAH

  1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Pelumpuh Otot. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi 2. Jakarta; Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007; 3: 66-70
  2. Harsono, Wibowo A, Santy A, Caesar GE, Kurnia R, Udayaningtyas U. Obat pelumpuh neuromuskular. Jakarta; 2007
  3. Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology. Ed 4. McGraw-Hill; 2007.
  4. Davies NJH, Cashman JN. Lee’s Synopsis of Anaesthesia. Ed 13. Elsevier; 2006. P 175-99.
  5. Lunn JN. Farmakologi Terapan Anestesi Umum. Catatan Kuliah Anestesi Edisi 4. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004; 4: 86-93
  6. Rachmat L, Sunatrio S. Obat pelumpuh otot. Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta; 2004; 15: 81-86
  7. Setio M. Buku Saku Obat-obatan Anestesia. Edisi 2 Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004

Referat Lengkap:

Sunday, January 4, 2015

Referat Obat Pelumpuh Otot (Bagian 3)

2.5   Pilihan Pelumpuh Otot 1.
a.       Gangguan faal ginjal : atrakurium, vekuronium

b.      Gangguan faal hati    : atrakurium

c.       Miastenia gravis        : dosis 1/10 atrakurium

d.      Bedah singkat           : atrakurium, rokuronium, mivakuronium

e.       Kasus obstetric         : semua dapat digunakan kecuali galamin.


2.6   Tanda-tanda Kekurangan Pelumpuh Otot1.
a.       Cegukan (hiccup)

b.      Dinding perut kaku.

c.       Ada tahanan pada inflasi paru.


2.7 Penawar Pelumpuh Otot
Anti kolinesterase yang dapat mencegah hidrolisis dan menimbulkan akumulasi asetilkolin. Obat ini mengalami metabolism terutama oleh kolinesterase serum. Contoh : Prostigmin, Piridostigmin, dan Edrophonium. 3
Dosis : 0,5mg bertahap sampai 5mg.
Bersifat muskarinik  menyebabkan hipersalivasi, keringatan, bradikardia, kejang bronkus, hipermotilitas usus dan pandangan kabur. Sehingga pemberiannya harus disertai dengan obat vagolitik seperti atropine dosis 1-1,5mg. Ekskresi terutama di ginjal.1

Referat Lengkap:

Saturday, January 3, 2015

Referat Obat Pelumpuh Otot (Bagian 2)

2.1  Obat Pelumpuh Otot
Obat pelumpuh otot dibagi menjadi dua kelas yaitu pelumpuh otot depolarisasi (nonkompetitif, leptokurare) dan nondepolarisasi (kompetitif, takikurare). Obat pelumpuh otot depolarisasi sangat menyerupai asetilkolin, sehingga ia bisa berikatan dengan reseptor asetilkolin dan membangkitkan potensial aksi otot. Akan tetapi obat ini tidak dimetabolisme oleh asetilkolinesterase, sehingga konsentrasinya tidak menurun dengan cepat yang mengakibatkan perpanjangan depolarisasi di motor-end plate. Perpanjangan depolarisasi ini menyebabkan relaksasi otot karena pembukaan kanal  natrium bawah terantung waktu. Setelah eksitasi awal dan pembukaan, pintu bawah kanal natrium ini akan tertutup dan tidak bisa membuka sampai repolarisasi motor-end plate. Motor end-plate tidak dapat repolarisasi selama obat pelumpuh otot depolarisasi berikatan dengan reseptor asetilkolin. Hal ini disebut dengan phase I block. Setelah beberapa lama, depolarisasi yang memanjang akan menyebabkan perubahan ionik dan konformasi pada reseptor asetilkolin yang mengakibatkan phase II block, yang secara klinis menyerupai obat pelumpuh otot nondepolarisasi.3
Obat pelumpuh otot nondepolarisasi berikatan dengan reseptor asetilkolin akan tetapi tidak mampu untuk menginduksi pembukaan kanal ion. Karena asetilkolin dicegah untuk berikatan dengan reseptornya, maka potensial end-plate tidak terbentuk. 3
Karena obat pelumpuh otot depolarisasi tidak dimetabolisme oleh asetilkolinesterase, maka ia akan berdifusi menjauh dari neuromuscular junction dan dihidrolisis di plasma dan hati oleh enzim pseudokolinesterase. Sedangkan obat pelumpuh otot nondepolarisasi tidak dimetabolisme baik oleh asetilkolinesterase maupun pseudokolinesterase. Pembalikan dari blok obat pelumpuh otot nondepolarisasi tergantung pada redistribusinya, metabolisme, ekskresi oleh tubuh dan administrasi agen pembalik lainnya (kolinesterase inhibitor).3

2.4.1 Pelumpuh Otot Depolarisasi
Obat pelumpuh otot depolarisasi ini bekerja sebagai agonis asetilkolin. Terjadi hambatan penurunan kepekaan membran ujung motor. Obat tersebut menimbulkan depolarisasi persisten pada lempeng akhir saraf. Terjadi karena serabut otot mendapat rangsangan depolarisasi menetap sehingga akhirnya kehilangan respons berkontraksi sehingga menimbulkan kelumpuhan. Ciri kelumpuhan ditandai dengan fasikulasi otot. Pulihnya fungsi saraf otot sangat bergantung pada kemampuan daya hidrolisis enzim kolinesterasi.6
Ciri Kelumpuhan :6

a.       Ada fasikulasi otot.

b.         Berpotensiasi dengan antikolinesterase.

c.              Kelumpuhan berkurang dengan pemberian obat pelumpuh otot non depolarisasi dan asidosis.

d.       Tidak menunjukkan kelumpuhan yang bertahap pada perangsangan tunggal maupun tetanik.

e.         Belum diatasi dengan obat spesifik.


2.4.1.2 Suksinilkolin (Diasetilkolin, Suxamethonium)
Suksinilkolin terdiri dari 2 molekul asetilkolin yang bergabung. Obat ini memiliki onset yang cepat (30-60 detik) dan waktu kerja yang pendek (kurang dari 10 menit). Ketika suksinilkolin memasuki sirkulasi, sebagian besar dimetabolisme oleh pseudokolinesterase menjadi suksinilmonokolin. Proses ini sangat efisien, sehingga hanya fraksi kecil dari dosis yang dinjeksikan yang mencapai neuromuscular junction. Waktu kerja obat akan memanjang pada dosis besar atau dengan metabolisme abnormal, seperti hipotermia atau rendanya kadar pseudokolinesterase. Rendahnya kadar pseudokolinesterase ini ditemukan pada kehamilan, penyakit hati, gagal ginjal dan beberapa terapi obat. Pada beberapa orang juga ditemukan gen pseudokolinesterase abnormal yang menyebabkan  blokade yang memanjang. Dosis yang diberikan adalah 1-2 mg/kgBB/IV. 3
Interaksi obat :
a.       Kolinesterase inhibitor
Kolinesterase inhibitor memperpanjang phase I block pelumpuh otot depolarisasi dengan 2 mekanisme yaitu dengan menghambat kolinesterase, maka jumlah asetilkolin akan semakin banyak, maka depolarisasi akan meningkatkan depolarisasi. Selain itu, ia juga akan menghambat pseudokolinesterase. 3
b.      Pelumpuh otot nondepolarisasi
Secara umum, dosis kecil dari pelumpuh otot nondepolarisasi merupakan antagonis dari phase I bock pelumpuh otot depolarisasi, karena ia menduduki reseptor asetilkolin sehingga depolarisasi oleh suksinilkolin sebagian dicegah.3
Efek samping :3
1.     Nyeri otot pasca pemberian :
Dapat dikurangi dengan pemberian pelumpuh otot non depolarisasi dosis kecil sebelumnya. Myalgia terjadi sampai 90%, selain itu dapat terjadi mioglobunuria.
2.      Peningkatan tekanan intra okular :
Meningkatkan tekanan intra ocular maksimum 2–4 menit setelah pemberian dan akan berlangsung selama 5-10 menit. Mekanismenya belum jelas tetapi diperkirakan karena kontraksi tonik myofibril atau dilatasi transien pembuluh darah koroid.
3.      Peningkatan tekanan intrakranial.
4.      Peningkatan intragastrik.
5.      Peningkatan kadar kalium plasma.
6.      Aritmia jantung
Berupa bradikardia atau "ventricular premature beat" terutama pada pemberian berulang atau terlalu cepat pada anak.
7.      Lama kerja yang memanjang.
Terutama pada penyakit hati parenkimal, kaheksia dan anemia (hipoproteinemia).

Kontra indikasi absolut : 3

1.        Hiperkalemia, > 5.5 meq/L, misal pada gagal ginjal.

2.        Kelainan otot: malignant hipertermia, myastenia gravis, muscular distrophy

3.      Trauma otot masif

4.      Luka bakar, 7-60 hari

5.      Luka tusuk orbita, karena meningkatkan tekanan intraokuler

6.      Gangguan neurology: paraplegia, neurodegenerative disease.

2.4.2 Pelumpuh Otot Non Depolarisasi
Manfaat obat ini di bidang anestesiologi antara lain untuk : 3
1.          Memudahkan dan mengurangi cidera tindakan laringoskopi dan intubasi     trakea.
2.         Membuat relaksasi tindakan selama pembedahan.
3.          Menghilangkan spasme laring dan reflex jalan napas atas  selama anesthesia.
4.         Memudahkan pernapasan kendali selama anesthesia.
5.         Mencegah terjadinya fasikulasi otot karena obat pelumpuh otot depolarisasi.

Bekerja berikatan dengan reseptor kolinergik nikotinik tanpa menyebabkan depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja.1
Berdasarkan susunan molekul, maka pelumpuh otot non depolarisasi digolongkan menjadi:1

1.         Bensiliso-kuinolinum : d-tubokurarin, metokurium, atrakurium, doksakurium, mivakurium.

2.         Steroid: pankuronium, vekuronium, pipekuronium, ropakuronium, rokuronium.

3.         Eter-fenolik : gallamin.

4.         Nortoksiferin : alkuronium.

Berdasarkan lama kerja, maka pelumpuh otot non depolarisasi dibagi menjadi kerja panjang, sedang, dan pendek:1



Dosis Awal (mg/kg)

Dosis Rumatan (mg/kg)


Durasi (menit)

Efek Samping


Non Depol Long Acting
1.      D-tubokurarin
2.      Pankuronium
3.      Metakurin
4.      Pipekuronium
5.      Doksakuriu
6. Alkurium 



0.40 – 0.60
0.08 – 0.12
0.20 - 0.40
0.05 – 0.12
0.02 – 0.08
0.15 – 0.30



0.10
0.15 – 0.20
0.05
0.01 – 0.015
0.005–0.010
0.05



30 – 60
30 – 60
40 – 60
40 – 60
45 – 60 
40 – 60



Hipotensi
Vagolitik,takikardi
Hipotensi
Kardiovaskuler stabil
Kardiovaskuler stabil
Vagolitik, takikardi
  Non Depol Intermediet
  1. Galamin
  2. Antarkurium
  3. Vekuronium
  4. Rokuronium
  5. Cistakuronium


 4 – 6
0.5 – 0.6
0.1 – 0.2
0.6 – 0.1
0.15 – 0.20


 0.5
0.1
0.015 – 0.02
0.10 – 0.15
0.02



30 – 60
20 – 45
25 – 45
30 – 60
30 – 45


 Hipotensi
Aman untuk hepar


Non Depol Short Acting
1.      Mivakurium
2.   Ropacoranium 



0.20 – 0.25
1.5 – 2.0


0.05
0.3 – 0.5


10 – 15
15 – 30

Deep Short Acting
  1. Suksinilkolin
1
3-10

2.4.2.1 Tubokurarin Klorida (Kurarin)
Merupakan alkaloid kuartener, suatu derivat isoquinolin yang berasal dari tanaman tropis Chondronderon tomentosum.6
Pada dosis terapeutik menyebabkan kelumpuhan otot mulai dengan ptosis, diplopia, otot muka, rahang, leher, dan ekstremitas. Paralisis otot dinding abdomen dan diafragma terjadi palig akhir. Lama paralisis bervariasi antara 15-50  menit 6

Sifat :5
a.       Blokade ganglion simpatis, dilatasi kapiler, inotropik negatif.
b.      Terjadi kumulatif.
Kontra indikasi :5
a.       Asma bronchial
b.      Renal disfungsi
c.       Myastenia gravis
d.      Diabetes melitus
e.       Hipotensi
Dosis : paralisis otot intraaabdominal : 10-15mg, intubasi trakea : 10-20mg.
Cara pemberian : IV / IM
Efek samping : hipotensi dan bradikardia. Pada dosis yang sangat besar bersifat inotropik negative.
Reaksi samping utama:5

a.       Kardiovaskuler : Hipotensi, vasodilatasi, takikardi sinus, bradikardi sinus.

b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu, bronkospasme, laringospasme, dispneu.

c.       Muskuloskelet : apabila tidak adekuat, akan menyebabkan blok lama.

d.      Dermatologik : Ruam, urtikaria.

Ekskresi : ginjal, kadang-kadang hepar.7


2.4.2.2 Doksakurium
Obat penyekat neuromuskuler nondepolarisasi aksi lama. Bersifat mengantagonis aksi asetilkolin, sehingga menimbulkan blok dari transmisi neuromuskuler. Doksakurium 2,5 hingga 3 kali lebih poten daripada pankuronium. Obat ini tidak mempunyai efek hemodinamik yang secara klinis bermakna.7
            Oleh anestetik volatil kebutuhan dosis berkurang (sekitar 30%-40%) dan lamanya blokade neuromuskular diperpanjang (hingga 25%). Paralisis rekurens dengan kuinidin. Diantagonis oleh inhibitor antikolinesterase (neostigmin, edrofonium, dan piridostigmin).7
            Peningkatan tahanan atau reverse dari efek dengan penggunaan karbamazepin dan fenitoin dan pada pasien dengan cedera bakar dan paresis, tidak kompatibel dengan larutan basa dengan PH>8,5, seperti larutan barbiturat.7.
Dosis intubasi : 0,05-0,08 mg/kg/I.V
Reaksi samping utama :
a.       Kardiovaskuler : Hipotensi, kemerah-merahan, fibrilasi ventrikel, infark miokard.
b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu, bronkospasme.
c.       SSP : Depresi.
d.      Anuria
e.       Dermatologik : Ruam, Urtiakaria.
f.       Muskuluskelet : Blok yang tidak adekuat menyebabkan blok yang diperpanjang.7.

2.4.2.3  Pipekuronium
Obat penyekat neuromuskular nondepolarisasi beraksi panjang ini merupakan turunan piperzinum. Waktu awitan dan lamanya serupa dengan pankuronium bromida dengan dosis yang sebanding. Secara klinis tidak mempunyai efek hemodinamik yang bermakna. Jarang terjadi pelepasan histamin.7
Dosis intubasi : 0,07-0,085 mg/kg/I.V
Reaksi samping utama :7
a.       Kardiovaskuler : Hipotensi, hipertensi, bradikardi, infark miokard.
b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu.
c.       SSP : Depresi.
d.      Anuria
e.       Dermatologik : Ruam, Urtiakaria.
f.       Muskuluskelet : Blok yang tidak adekuat menyebabkan blok yang diperpanjang.
Metabolik : Hipoglikemia, Hiperkalemia, Peningkatan kreatinin.  Potensinya meningkat dan durasi memendek pada bayi dibanding pada anak dan dewasa.

2.4.2.4  Pankuronium Bromida (Pavulon)
Merupakan steroid sintesis adalah obat pelumpuh otot non depolarisasi yang paling banyak dipakai di Indonesia. Kemasan : ampul 2 ml larutan yang mengandung pankuronium bromide 4 mg.3
Mula kerja terjadi pada menit 2-3 untuk selama 30-40menit. Berikatan kuat dengan globulin plasma dan berikatan sedang dengan albumin. Mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang, karena itu dosis pemeliharaan/rumatan harus dikurangi dan waktu pemberian harus diperpanjang.3
Pankuronium menyebabkan sedikit pelepasan histamine dan hipertensi karena memiliki efek inotropik positif serta takikardia karena efek vagolitik. Sebanyak 15-40% pankuronium dalam tubuh mengalami metabolisme deasetilasi.3
Ekskresi : ginjal (60-80%) dan sebagian lagi empedu (20-40%)
Dosis : relaksasi otot : 0,08mg / kg BB/ IV (dewasa), rumatan : ½ dosis awal., intubasi trakea : 0,15mg /kg BB/ IV.
Kontra indikasi :

a.       Hipertensi

b.      Kelainan otot : malignant hyperthermia

c.       Miastenia gravis

d.      Muscular distrophy.5

Reaksi samping utama :

a.       Kardiovaskular : Takikardia, hipertensi

b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu, bronkospasme.

c.       Alergik : kemerahan, syok anafilaktik 7

2.4.2.5  Galamin (Flaxedil)
Obat pelumpuh otot non depolarisasi sintetik. Kemasan : ampul 2 ml atau 3 ml larutan 4%. Larutan dapat dicampur dengan thiopental. Lama kerja obat berkisar 15-20 menit. Mula kerja sangat berhubungan dengan aliran darah otot. Mempunyai efek yang lemah pada ganglion saraf dan tidak menyebabkan pelepasan histamin. Memiliki sifat seperti atropin yaitu menyebabkan takikardia walaupun pada dosis kecil (20 mg). Karena itu galamin cukup baik dipakai bersama anestetik halotan. Kenaikan tekanan darah dapat terjadi, tetapi ringan. Galamin dapat menembus sawar darah plasenta, tetapi tidak sampai mempengaruhi kontraksi uterus. 3
Ekskresi : ginjal dan sebagian kecil empedu.
Penggunaan klinik :
a.       Memudahkan intubasi trakea. Dosis : 80-100mg IV ditunggu selama 2-3 menit.
b.      Relaksasi pembedahan. Dosis : 2mg / kg BB / IV. Pada dosis sebesar 40mg jarang sampai menimbulkan paralisis diafragma dan pasien dapat tetap bernapas spontan walaupun sebagian otot rangka mengalami kelumpuhan. Teknik seperti ini sering dipakai untuk prosedur ginekologik.
c.       Sebagai profilaksis bradikardia selama anesthesia umum, misalnya pada pembedahan bola mata. 3
Kontra indikasi :
a.       Pasien dengan takikardia
b.      Fungsi ginjal yang buruk atau ancaman gagal ginjal. 3
Reaksi samping utama :

a.       Kardiovaskuler : Takikardi, Aritmia, Hipotensi

b.      Pulmoner : Hipoventilasi, Apneu

c.       Muskuloskelet : Blok tidak adekuat, blok yang diperpanjang.7

2.4.2.6  Alkuronium Klorida (Alloferine)
Merupakan sintetik toksiferin, suatu alkaloid dari tanaman Strychnos toksifera. Kemasan : ampul 2ml yang mengandung 10 mg Alkuronium klorida. Larutan tidak dapat dicampur thiopental. Mula kerja terjadi pada menit ke 3 untuk selama 15-20menit. Tidak bersifat pelepas histamine jaringan, tetapi dapat menghambat ganglion simpatik sehingga dapat menyebabkan hipotensi terutama pada pasien dengan penyakit jantung. Dapat berpotesiensi ringan dengan N2O-tiopental-narkotik. 3
Dosis relaksasi pembedahan : 0,15mg / kg BB / IV dewasa, 0,125-0,2 mg/ kg BB/ IV anak-anak.
Dosis intubasi trakea : 0,3 mg/ kg BB / IV.
Ekskresi : ginjal (70%) dalam bentuk utuh dan sebagian kecil melalui empedu.3

2.4.2.7  Atrakurium Besilat (Tracrium)
Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang relatif baru yang mempunyai struktur bensilisoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice leontopeltalum.3
Keunggulan atrakurium dibanding obat terdahulu :
a.       Metabolisme terjadi di dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut eliminasi Hoffman. Reaksi ini tidak tergantung dari fungsi hati dan ginjal.
b.      Tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang.
c.       Tidak menyebabkan perubahan kardiobaskuler yang bermakna. 3
Kemasan : ampul 5ml mengandung 50mg atrakurium besilat. Stabilitas larutan sangat bergantung penyimpanan pada suhu dingin dan perlindungan terhadap penyinaran.3
Mula dan lama kerja atrakurium bergantung pada dosis yang dipakai. Pada umumnya mula kerja atrakurium pada dosis intubasi adalah 2-3 menit. Sedangkan lama kerja dengan dosis relaksasi adalah 15-35menit. 3
Dosis : intubasi : 0,5-0,6mg / kg BB/ IV, relaksasi otot : 0,5-0,6 mg / kg BB / IV, pemeliharaan : 0,1-0,2 mg / kg BB / IV.
Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan (sesudah lama kerja obat berakhir) atau dibantu dengan pemberian anti kolinesterase. Atrakurium merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi terpilih untuk pasien geriatrik atau dengan kelainan jantung, hati, dan ginjal yang berat. 3
Reaksi samping utama :

a.       Kardiovaskuler : Hipotensi, vasodilatasi, takikardi sinus, bradikardi sinus.

b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu, bronkospasme, laringospasme, dispneu.

c.       Muskuloskelet : apabila tidak adekuat, akan menyebabkan blok lama.

d.      Dermatologik : Ruam, urtikaria. 7

2.4.2.8  Vekuronium (Nocuron)
Obat pelumpuh otot non depolarisasi yang baru dan homolog pankuronium bromide yang berkekuatan lebih besar dengan lama kerja yang singkat. Tidak memiliki efek kumulasi pada pemberian berulang atau kontinyu per infuse. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna.3
Kemasan : ampul berisi bubuk vekuronium 4 mg. Pelarut yang dipakai antara lain akuades, garam fisiologis, RL, atau D5% sebanyak 2 ml. Dosis : 0,1mg / kg BB / IV. Mula kerja terjadi pada menit 2-3 dengan lama kira-kira 30 menit.7
Reaksi samping utama :

a.       Kardiovaskular : bradikardia.

b.      Pulmoner : Hipoventilasi, apneu. 7


2.4.2.9  Mivacurium
Merupakan pelumpuh otot kerja pendek/singkat yang dihidrolisa oleh kolin esterase plasma dengan kecepatan yang ekuivalen pada 88% dari SCh. Dosis : 80 ug/kgBB onset 2-3 menit durasi 12-20 menit. Durasi dari mivakuriumk 2 x SCh atau 30-40% dari non depol intermediate. Blokade pada penderita chirosis hepatis mempunyai onset yang sama tetapi mengalami pemanjangan pada durasi.7

Referat Lengkap:

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...